BELAJAR MELEPAS


“ Lin, lo tau kan jepit rambut gw yang berbentuk hati yang dikasih sama Bobby?”

“ Ya, emang kenapa, Mit?”

“ Jepit rambutnya ilang, Lin. Tadi ketinggalan di meja toilet kampus. Gara-gara buru-buru mau ada quiz, waktu keluar toilet lupa gw ambil, hikz…”

“ Yee, lo sendiri sih yang ceroboh. Udah tau jepit rambut lo bagus, buatan Amrik pula, truz hadiah Valentine dari Bobby lagi. Lo udah bilang Bobby kalo jepitan lo ilang?”

“ Udah Lin, truz parahnya lagi, dia malah marah-marah sama gw. Katanya gw ga bisa jaga baik-baik tanda cinta dari dia”. “ Truz gimana kelanjutannya ?”

“ Dia cuekin gw dari tadi. Gw bener-bener takut keilangan dia, Lin. Gw jadi ga nafsu makan ni. Mau ngapa-ngapain ja jadi males. Yang di pikiran gw cuma jepitan itu dan Bobby. Lo tau ga sih di mana jepitan gw, lin?”.

“ Mit, lo nyadar ga sih, jepitan lo itu adanya yah di pikiran lo sendiri. Udah jelas-jelas kalo ilang di kampus susah nyarinya, masa perlu gw tanyain satu per satu orang-orang di kampus, udah jelas jumlahnya ribuan, Mita. Mending lo relain ja jepitan lo yang ilang itu. Truz masalah Bobby, jangan terlalu lo pikirin, kalo dia bener-bener cinta sama lo, jepitan itu ga lebih berarti daripada diri lo”.


Mungkin kita sering menghadapi peristiwa seperti yang dialami Mita. Kadang-kadang kita menghabiskan energi kita untuk meratapi hal-hal yang telah pergi dan hilang. Kehilangan uang, barang, ataupun orang yang kita cintai. Kita hanya bisa meratap, menangis, dan kecewa. Padahal sebagai umat Buddha, kita tahu bahwa masih berputar-putar di alam samsara adalah dukkha. Selain itu, sabbe sankhara anicca, semua yang berkondisi tidak kekal. Jadi, untuk apa kita bersedih saat kehilangan segala yang kita cintai?



Karena pada dasarnya kita pun tahu bahwa keberadaan mereka tidak kekal, mereka akan pergi dan mereka tidak akan ada di sisi kita selama-lamanya. Mungkin saat pertama kali harus berpisah atau kehilangan, timbul keegoisan dan keserakahan dari diri kita. Mana “ milikku”? tapi, apakah semuanya itu benar-benar milik Anda??? Bila Anda berpikiran seperti itu, apa bedanya Anda dengan si dungu dalam syair Dhammapada di bawah ini : Anak-anak adalah milikku, kekayaan adalah milikku. Demikianlah si Dungu menjadi jengkel. Dirinya sendiri sesungguhnya bukan miliknya, bagaimana mungkin anak-anak dan kekayaan (menjadi miliknya)? Dhammapada 62 ( Bala Vagga 3) Mungkin permasalahan utamanya adalah bagaimana kita harus belajar melepas. Tidak ada konsep “milikku” mungkin lebih baik.



Dengan demikian, bila kita harus kehilangan, kita tidak akan menjadi sakit, tak ada sedih, kecewa maupun penderitaan. Bahkan tidak ada pula konsep “diriku”, Anatta. Semua konsep itu hanya hasil bentukan dari pikiran kita. Pernakah Anda menyadari, semakin banyak yang Anda miliki, maka semakin besar pula rasa ketakutan Anda akan kehilangan. Bagaimana Anda bisa berbahagia bila keadaannya seperti itu? Perasaan Anda tak pernah terbebas. Semuanya “milikku, milikku, milikku”, “ Aku takut kehilangan”. Mengapa Anda harus takut? Karena pada akhirnya Anda juga akan kehilangan diri Anda, kematian akan datang juga.



Thich Nhat Hanh pernah berkata, tiada kematian, tiada ketakutan. Pada saat kematian datang, itu adalah awal untuk kelahiran yang selanjutnya. Jadi, untuk apa ditakuti, selama masih berada di samsara, proses tersebut tidak akan pernah berakhir. Tidak ada awal dan akhir. Semuanya hanya konsep yang kita buat. Coba Anda bayangkan, ketika Anda melihat kuncup bunga hari ini, mungkin kuncup itu akan berubah menjadi bunga indah beberapa hari kemudian. Lalu timbul pertanyaan, kemana perginya kuncup bunga yang Anda lihat beberapa hari yang lalu? Kuncup itu tak lain adalah bunga indah yang sedang Anda pandangi pada hari ini. Dua benda itu tak sama, tapi tak berbeda juga. Konsep hilang dan muncul hanya ada di dalam pikiran Anda, padahal secara alami keduanya tidak ada.



Contoh lain adalah ketika Anda telah melihat matahari hari ini terbit dan tenggelam. Lalu, ketika besok matahari itu terbit lagi, Anda pasti akan bertanya, matahari yang sama kah seperti yang kemarin? Semunya hanya konsep dari pikiran Anda. Selama Anda belum bisa melepaskan konsep-konsep itu, maka Anda tidak bisa bahagia. Mungkin orang yang paling simple pikirannya adalah orang termiskin di dunia ini karena mereka tidak memiliki ketakutan akan kehilangan miliknya. Jadi mengapa kita tak mencoba membuang konsep “milikku”? Karena semakin kita merasa tak memiliki apa-apa, kita tak akan pernah memiliki rasa takut kehilangan. (KMBUI)
Category:

0 komentar: