Tampilkan postingan dengan label Artikel Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Dhamma. Tampilkan semua postingan

Apakah Buddha Dhamma itu Kuno?

Kalau kita melihat agama Buddha "secara sepintas" maka kita akan dihadapkan pada satu anggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang yang ada di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen.

Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum percaya akan adanya listrik. Belum lagi terlihat gentong yang memberi kesan seolah-olah kita sedang berada disebuah toko barang antik. Kalau kita perhatikan lagi, kita akan menemukan makhluk-makhluk yang lebih antik lagi; yakni bahwa di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, kita tetap duduk di lantai bila sedang melaksanakan kebaktian. Dari sinilah kritikan-kritikan terhadap agama Buddha dilontarkan! Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini dapat dimengerti karena mereka hanya melihat dari sudut tradisi/luar saja. Padahal ajaran Sang Buddha tidak pernah ketinggalan zaman.

Lalu apa buktinya bahwa agama Buddha itu mengikuti perkembangan zaman? Setiap kali kita mengikuti kebaktian, kita tentu membaca tuntunan Tisarana dan Pancasila yaitu menghindari pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan. Apakah Pancasila ini sudah kuno dan milik umat Buddha saja? Apakah agama lain menghalalkan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukan? Tentu kita akan menjawab: "Tidak!" karena semua manusia pasti harus melaksanakan Pancasila baik pada masa yang lampau, sekarang maupun masa yang akan datang. Ini adalah satu bukti bahwa ajaran Sang Buddha selalu mengikuti perkembangan zaman.

Mungkin hal ini belum dapat memuaskan Saudara karena masih terlalu umum. Untuk itu mari kita lihat intisari/jantung dari seluruh ajaran Sang Buddha. Apakah intisari/jantung ajaran Sang Buddha itu? Intinya adalah "kurangi kejahatan, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan pikiran". Apakah hal tersebut hanya berlaku di zaman Sang Buddha dan hanya milik agama Buddha saja? Apakah agama lain menganjurkan: "tambahlah kejahatan, kurangi kebaikan dan kacaukan pikiran?" tentu tidak! Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha sudah kuno dan ketinggalan zaman. Karena sesungguhnya ajaran Sang Buddha selalu mengikuti zaman! Bahkan Albert Einstein yang terkenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan pernah menyatakan bahwa "Agama yang bisa menjawab tantangan ilmu pengetahuan adalah agama Buddha".

Oleh karena itu berbahagialah kita sebagai umat Buddha. Namun hanya berpuas diri sebagai umat Buddha masih belum cukup, karena ada ajaran yang lebih dalam lagi yaitu kita hendaknya bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha di dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting sekali karena ajaran Sang Buddha itu tidak hanya bersifat teori tetapi perlu dilaksanakan! Hal ini sama halnya dengan contoh orang yang mempunyai hobby berenang. Misalnya Saudara diberitahu bahwa berenang itu menyenangkan dan dengan bisa berenang maka Saudara tidak perlu lagi takut kepada . Lalu Saudara suka berkhayal tentang berenang. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mau mencoba, apakah Saudara akan bisa berenang, walaupun teori-teori berenang sudah dikuasai? Apakah Saudara cuma cukup berbangga: "Ah... saya 'kan bisa teori berenang." Tentu tidak! Demikian pula dengan ajaran Sang Buddha! Ajaran Sang Buddha memang sungguh luar biasa, begitu agung, begitu indah dan tidak pernah ketinggalan zaman. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mempraktekkannya, apakah hal tersebut akan bermanfaat? Justru dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha, Saudara akan bisa menyelesaikan permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu bagaimanakah cara menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan ajaran Sang Buddha? Sebetulnya ajaran Sang Buddha itu sudah terbabar di altar, hanya saja kita jarang memperhatikannya. Perlengkapan sembahyang yang dianggap kuno itu ternyata mampu menjadi salah satu medium yang dapat membabarkan Dhamma karena tersirat makna yang cukup dalam dan bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan:

1. Patung Sang Buddha

Patung Sang Buddha ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang menggunakan bentuk seperti payung yang ada di Candi Borobudur, ada yang menggunakan gaya India, Thailand, Srilanka, dsb. Kenapa bisa berbeda-beda? Karena sesungguhnya patung Sang Buddha bukan melambangkan/mewujudkan manusia Sidharta Gautama. Jadi kalau Saudara berada di depan patung Sang Buddha, jangan Saudara membayangkan bahwa Sang Buddha itu seperti patung yang ada di hadapan Saudara atau yang pernah Saudara lihat. Kalau kita mengingat kembali riwayat hidup Sang Buddha, kita akan melihat bahwa ketika Beliau masih menjadi bodhisatva, sesungguhnya Beliau memiliki satu kehidupan yang sangat berlebihan; ada harta, tahta dan wanita. Namun Pangeran Sidharta Gautama adalah manusia yang mempunyai cara berpikir yang berbeda.

Ketika Beliau menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya tidak kekal dan tidak memuaskan, Beliau pun memutuskan untuk mencari obat yang dapat mengatasi ketuaan, sakit, lahir dan mati; walaupun sangat menderita, Beliau terus berjuang. Bahkan pada suatu hari Beliau bertekad untuk tidak akan berdiri dari tempat duduknya sebelum menemukan obat sakit, tua, lahir dan mati; dan malam itu juga Beliau berhasil menembus hakekat hidup yang tidak kekal yang disebut mencapai Nibbana, yang sekarang diperingati setiap hari Waisak. Inilah sesungguhnya makna yang terkandung dari patung Sang Buddha yaitu lambang semangat yang tidak pernah kenal putus asa. Ketika melihat patung Sang Buddha, hendaknya muncul semangat untuk bekerja, semangat untuk berjuang dalam meraih cita-cita. Kita bersujud di depan patung Sang Buddha adalah untuk menghormati Guru kita yang telah mengajarkan kebenaran, jadi bukan menyembah pada patung. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kekurangan/kehilangan semangat dalam perjuangan hidup kita.

2. Lilin
Lilin ini sesungguhnya juga merupakan suatu lambang. Seperti lilin yang rela hancur demi menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya seorang umat Buddha mau berkorban untuk kebahagiaan makhluk lain. Pengorbanan besar telah diberikan oleh Guru kita; 6 tahun menderita dan membaktikan diri selama 45 tahun untuk mengajarkan Dhamma setiap hari. Kita pun sebagai murid-muridNya hendaknya bersikap demikian; seperti lilin yang menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya kita sebagai umat Buddha bisa menjadi pelita di dalam kehidupan bermasyarakat dengan kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

3. Bunga
Bunga melambangkan ketidak kekalan; hari ini indah dan wangi tetapi besok akan layu, lusa akan membusuk dan dibuang. Demikian pula dengan diri kita; hari ini kita masih sehat, kuat dan cantik tetapi dengan berlalunya sang waktu; kesehatan, kekuatan dan kecantikan kita pun akan berkurang. Seperti bunga yang sekarang segar, besok akan layu dan dibuang; demikian juga hendaknya kita selalu menyadari bahwa pada suatu ketika kita pun akan dibuang, berpisah dengan yang dicintai dan berkumpul dengan yang dibenci. Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita sombong/berbesar kepala karena semua ada batasnya dan tidak kekal. Ini adalah Dhamma yang dipesankan lewat altar.

4. Air
Air ini melambangkan pembersih segala kotoran. Seperti air yang membersihkan semua debu-debu kekotoran; demikian juga ajaran Sang Buddha hendaknya bisa membersihkan segala kekotoran yang melekat di batin dan pikiran kita baik ketamakan, kebencian maupun kebodohan.

CRY AND LAUGH

Ketika kesedihan datang, dunia tampak begitu kelabu
Langit cerah tampak begitu mendung
Seluruh dunia tampak tak bersahabat
Tak ada satu tempat pun yang memberikan kenyamanan
Berjuta kepingan es seakan menikam hati
Sakit dan perih menjadi satu
Dan air mata pun mulai mengalir…

Ketika kebahagiaan datang, dunia tampak begitu indah
Langit mendung tampak begitu cerah
Seluruh dunia tampak begitu bersahabat
Semua tampak memberikan kenyamanan
Berjuta kehangatan seakan menyelimuti hati
Damai dan suka cita menjadi satu
Dan tawa pun mulai merekah…

Kedua keadaan yang kontras di atas mungkin sering kita alami. Ada saat di mana kita begitu bahagia, tawa pun tak bisa ditahan. Namun di saat lain, kita merasa begitu sedih, saat di mana kita begitu kesepian, sendirian, dan kita harus berjuang melawan tangis. Air mata yang menetes seakan belum dapat melukiskan kepedihan hati kita. Pernahkah anda berpikir, berapa sering perasaan kita menghadapi dualisme itu? Seberapa sering anda merasa dipermainkan oleh perasaan anda sendiri? Berapa sering anda tak dapat mengontrol perasaan anda?

Ketika anda sedang megalami kebahagiaan, mungkin anda jarang memperhatikan perasaan anda. Anda hanya mengetahui bahwa saat itu anda senang dan anda begitu bahagia. Dan tak ada yang perlu anda pikirkan lagi. Namun, bagaimana ketika anda sedang mengalami kesedihan? Pasti di pikiran anda penuh dengan tanda tanya. “Mengapa saya yang harus mengalami nasib yang begitu buruk ini?”. “Mengapa harus saya?”. “Mengapa dunia seakan tidak adil kepada saya?”

Berbagai kondisi di atas masih menunjukkan sifat kita yang lobha (serakah) dalam arti ingin menambah hal yang menyenangkan namun tidak ingin menerima hal yang tidak menyenangkan. Diri kita masih penuh dengan tanha (nafsu keinginan). Kita masih dilingkupi oleh belenggu batin sehingga kita tidak bisa melihat dan menerima realitas dengan baik. Kita tidak bisa mengontrol batin kita. Batin kita belum bisa mencapai upekkha( keseimbangan batin). Ketika bahagia kita begitu bahagia, dan ketika sedih kita begitu sedih.

Mungkin banyak dari anda yang setelah merenungkan kondisi seperti ini merasa bingung. Mungkin anda akan bertanya-tanya, “Jadi mengapa perasaan saya harus dipermainkan seperti ini?” “Mengapa saya harus dipermainkan dalam lingkaran kebahagiaan dan kesedihan yang tak berakhir?” Dan mungkin anda akan berkata, “Saya sudah bosan dengan keadaan seperti ini”.


Mungkin tindakan yang tepat adalah bagaimana anda mengontrol perasaan anda. Ketika anda senang, anda tidak terlalu senang. Sementara ketika anda sedih, anda tak terlalu sedih. Intinya anda berusaha menghindari sisi ekstrem. Anda menerima semua realitas dengan “biasa-biasa saja”. Ada baiknya ketika anda sedang bahagia, anda dapat merenungkan pertanyaan berikut ini, “ Mengapa saya bahagia?”. Lalu anda menyadari, bahwa kebahagiaan yang anda terima pasti ada sebabnya. Dan anda menyadari bahwa penyebabnya adalah karma baik yang pernah anda tanam sebelumnya. Dengan demikian anda tak akan terlalu berlebihan menerima kebahagiaan yang datang kepada anda karena anda tahu bahwa apa yang anda terima sekarang adalah hasil perbuatan anda di masa lampau. Karma baik anda sedang berbuah saat ini. Anda seharusnya mendapat motivasi untuk lebih banyak melakukan karma baik lagi (tapi perbuatannya tetap dilandasi dengan ketulusan, tidak semata-mata mengharapkan pamrih untuk menerima kebahagian semata). Tapi hendaknya anda menerima semua kebahagiaan dengan sewajarnya, anda menyadari bahwa kebahagiaan pun hanya sementara, tak kekal dan suatu saat akan hilang.

Ketika anda sedang mengalami kesedihan, anda dapat melakukan perenungan terhadap hal yang sama ketika anda sedang mengalami kebahagiaan. Anda dapat merenungkan, “Mengapa saya sedih?”. Lalu anda menyadari bahwa kesedihan yang anda terima pasti ada sebabnya. Dan anda menyadari bahwa penyebabnya adalah karma buruk yang pernah tanam sebelumnya. Dengan demikian anda tak akan terlalu berlebihan menerima kebahagiaan yang datang kepada anda karena anda tahu bahwa apa yang anda terima sekarang adalah hasil perbuatan anda di masa lampau. Karma buruk anda sedang berbuah saat ini. Anda seharusnya mendapat motivasi untuk tidak menambah timbunan karma buruk lagi. Anda juga harus menerima semua kesedihan dengan sewajarnya, anda menyadari bahwa kesedihan pun hanya sementara, tak kekal dan akan berlalu juga suatu saat.

Anda harus berusaha mengembangkan upekkha (keseimbangan batin). Anda tahu ketika kebahagiaan datang, lalu menerima sewajarnya. Demikian pula ketika kesedihan datang, anda mengetahuinya, lalu menerima sewajarnya. Dengan demikian anda dapat mengontrol perasaan anda, bukan anda yang dikontrol oleh perasaan anda. Adalah lebih baik ketika anda dapat menakhlukkan diri anda sendiri daripada menakhlukkan orang lain. Bila hal ini dapat dilakukan, maka anda tidak akan merasa terlalu tetkejut ketika kebahagiaan berubah menjadi kesedihan ataupun kesedihan berubah menjadi kebahagiaan. Anda mengetahui, semua hal ada sebabnya. Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik, sementara benih yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik. By : Tim Rohani KMBUI

SIKAP YANG TEPAT TERHADAP KRITIK

ik
Anda harus belajar bagaimana menjaga diri anda dari kritik yang tidak adil dan bagiamana mempergunakan kritik yang membangun. Anda haruslah melihat secara objektif terhadap kritik yang diberikan orang-orang lain kepada anda. Bila kritik terhadap anda itu benar, ada dasarnya dan diberikan dengan maksud baik, maka terimalah kritik itu dan pergunakanlah. Tetapi, bila kritik itu tidak benar dan tidak berdasar dan diberikan dengan maksud jahat, anda tidak harus menerima kritik jenis ini. Bila anda tahu bahwa sikap anda benar dan dihargai oleh orang-orang yang bijaksana dan berada, maka janganlah mempedulikan kritik yang tidak berdasar. Pengetahuan anda tentang kritik yang membangun dan yang merusak adalah penting.

"Tidak ada orang yang tidak bersalah didunia ini.” JANGAN HARAPKAN APA-APA DAN TIDAK ADA YANG AKAN MENGECEWAKAN ANDA

Anda dapat melindungi diri anda dari kekecewaan-kekecewaan dengan tidak mempunyai harapan-harapan yang berlebih-lebihan. Bila anda tidak mengharapkan apa-apa, maka tidak ada yang dapat mengecewakan anda. Jangan harapkan imbalan atas kebaikan yang anda telah perbuat. Berbuat baiklah demi perbuatan baik itu sendiri. Bila anda dapat menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka anda tidak akan mengalami kekecewaan. Anda dapat menjadi orang besar! Kegembiraan yang timbul dalam pikiran anda karena kebaikan yang telah anda perbuat, itu sendiri adalah imbalan yang besar. Kegembiraan menciptakan kepuasan dalam hidup kita.

Mungkin anda adalah orang yang sifatnya baik dan anda tidak berbuat yang mencelakakan orang-orang lain. Tetapi anda disalahkan orang-orang lain sekalipun berbuat baik. Anda harus menghadapi kesukaran-kesukaran dan kekecewaan-kekecewaan sekalipun anda telah menolong orang-orang lain dan telah berbuat baik bagi orang-orang lain. Anda mungkin bertanya: “Bila kebaikan menimbulkan kebaikan dan kejahatan menimbulkan kejahatan , mengapa saya harus menderita bila saya benar-benar tidak bersalah? Mengapa saya harus mengalami begitu banyak kesulitan? Mengapa saya mendapatkan begitu banyak kekecewaan? Mengapa saya dipersalahkan oleh orang-orang lain sekalipun saya berbuat baik?” Jawaban yang sederhana ialah: bila anda berbuat perbuatan baik, anda harus menghadapi kekuatan-kekuatan jahat. Bila tidak, anda sedang menghadapi karma tidak baik dari masa lalu yang masak dizaman sekarang. Teruslah dengan kerja baik anda dan akhirnya anda bebas dari kesukaran-kesukaran yang seperti itu. Ingatlah, bahwa anda telah menciptakan kekecewaan-kekecewaan anda sendiri dan anda sendirilah yang dapat mengatasi kekecewaan-kekecewaan ini, dengan menyadari sifat dari karma (aksi dan reaksi) dan kondisi-kondisi dunia sebagaimana dijelaskan Sang Buddha.

"Bila anda dapat melindungi diri anda, anda dapat melindungi orang-orang lain.”

Motivasi dalam Buddhisme


Pada umumnya motivasi yang muncul karena didasari kesadaran atau keinginan sendiri (dari dalam) akan lebih kuat dibandingkan motivasi yang dipaksakan orang lain, walaupun pada akhirnya motivasi tersebut bisa juga menjadi kuat setelah hasilnya dirasakan pelakunya. Lihat saja contoh Pangeran Siddharta, tidak ada orang lain yang mendorong Beliau untuk meninggalkan istananya yang mewah, isterinya yang cantik, dan anaknya yang baru lahir, demi mencari obat mujarab untuk mengakhiri penderitaan manusia.

Motivasi yang kuat ataupun lemah terlihat dari tingkah laku sehari-hari. Kebutuhan individu untuk berhasil merupakan salah satu bentuk stimulus/ rangsangan yang mendorong motivasi seseorang. “ Stimulus adalah hal-hal yang menyebabkan bangkitnya atau timbulnya tanggapan-tanggapan atau tindakan-tindakan tertentu, sedangkan “Respons” adalah tindakan kita terhadap stimulus yang dataang.

Berbagai faktor yang menentukan respon kita yaitu : kesadaran diri, imajinasi, hati nurani, dan kekuatan tekad. Agar lebih tepat dalam memilih respons tersebut kita harus menyadari perasaan, emosi, dan kondisi fisik kita, pengaruh dari luar, pengaruh respons kita terhadap kita sendiri maupun orang lain.

Berbagai hal yang dapat membantu dalam usaha meningkatkan kesadaran diri antara lain :

Berbicara di depan cermin

Merekam pembicaraan sendiri

Meminta Umpan Balik

Evalusai keyakinan, pandanganm nilai dan perasaan

Membuat catatan harian

Sumber –sumber referensi dapat berasal dari internal maupun eksternal. Yang paling besar pengaruhnya adalah referensi internal, yang lazim disebut sebagai pengalaman, karena memang merupakan hal yang dialami kita sendiri dari paradigma, dari pelajaran, dari visi dan misi pribadi kita. Oleh karena itu, referensi internal dapat diperkaya melalui banyak belajar, membaca, mengikuti pelatihan, pada saat bersamaan referensi eksternal jga diperkaya misalnya dengan pergaulan, atau menjadi anggota organisasi, semisal UKM Buddha, UKM Komputer dsb

Daya imajinasi dapat diolah dengan cara :

  1. Melihat segala sesuatu dari segala sudut pandang, jangan hanya dari satu sudut saja
  2. Mempertanyakan batasan-batasan yang ada, yang mungkin harus diterapkan
  3. Hubungkan hal-hal yang mungkin tampaknya tidak berhubungan
  4. Rileks dan tidak tegang (tense)
  5. Jangan mengkritik ide-ide orang lain, sebaliknya seringlah bertukar ide dengan orang lain, karena saling bertukar ide dapat memperkaya semua pihak.

Hambatan ? Tentu, selalu ada saja hambatan atas usaha-usaha yang dilakukan. Kita bagaikan terjepit di bawah hambatan-hambatan tersebut. Untuk mengatasinya, tidak lain kita harus memperkuat faktor-faktor yang menjadi pendorong kita. Itulah kekuatan tekad, yang dapat dan harus diperbesar untuk melawan faktor-faktor penghambat.

Pada beberapa individu, terdapat kecenderungan untuk menghindar dari masalah yang timbul. Hal ini dikenal dengan istilah “Flight” atau melarikan diri dari masalah. Kebalikannya adalah “fight“ atau menghadapi dan berusaha memecahkan masalah yang timbul, karena masalah adalah tantangan, yang jika dihadapi dengan benar dan tepat, dapat memperkuat kekuatan kita, dan sebaliknya, menghindari tantangan tanpa pernah berusaha sama sekali, akan memperlemah kita. Asalkan kita mau berusaha dan mencoba dengan tekad dan pikiran positif, tantangan seperti apapun beratnya, akan dihadapi dengan baik.

Kita baru mulai melangkah, diperlukan kegigihan luar biasa untuk mencapai keberhasilan, dan kita sendiri yang akan memetik buahnya kelak. Apa yang dilakukan jika semua usaha kita gagal ? Terimalah kenyataan dari kegagalan itu, dan berusahalah belajar dari kegagalan, jadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, intropeksi untuk meningkatkan diri di masa mendatang, sehingga kalaupun kita terjatuh, tidak akan menggelinding ke bawah, melainkan menggelinding ke atas. Penolakan kita atas kegagalan yang terjadi, tidak akan memperbaiki keadaan, melainkan memperlemah kita sendiri karena hati nurani tidak bisa dibohongi.

Suatu banyak contoh keberhasilan orang-orang besar yang memiliki motivasi luar biasa kuat walaupun pada awalnya mereka mengalami kegagalan, yang bukan hanya sekali dua kali, namun berkali-kali, bahkan ada yang sampai puluhan kali.

Marilah kita senantiasa memupuk motivasi yang kuat sesuai Dhamma untuk menjadi umat Buddha yang lebih baik, dan lebih baik lagi dalam hidup kita, sampai akhirnya mencapai kebahagiaan Nibbana.

Artikel ini dikutip dari Majalah Permata Dhamma

BELAJAR MELEPAS


“ Lin, lo tau kan jepit rambut gw yang berbentuk hati yang dikasih sama Bobby?”

“ Ya, emang kenapa, Mit?”

“ Jepit rambutnya ilang, Lin. Tadi ketinggalan di meja toilet kampus. Gara-gara buru-buru mau ada quiz, waktu keluar toilet lupa gw ambil, hikz…”

“ Yee, lo sendiri sih yang ceroboh. Udah tau jepit rambut lo bagus, buatan Amrik pula, truz hadiah Valentine dari Bobby lagi. Lo udah bilang Bobby kalo jepitan lo ilang?”

“ Udah Lin, truz parahnya lagi, dia malah marah-marah sama gw. Katanya gw ga bisa jaga baik-baik tanda cinta dari dia”. “ Truz gimana kelanjutannya ?”

“ Dia cuekin gw dari tadi. Gw bener-bener takut keilangan dia, Lin. Gw jadi ga nafsu makan ni. Mau ngapa-ngapain ja jadi males. Yang di pikiran gw cuma jepitan itu dan Bobby. Lo tau ga sih di mana jepitan gw, lin?”.

“ Mit, lo nyadar ga sih, jepitan lo itu adanya yah di pikiran lo sendiri. Udah jelas-jelas kalo ilang di kampus susah nyarinya, masa perlu gw tanyain satu per satu orang-orang di kampus, udah jelas jumlahnya ribuan, Mita. Mending lo relain ja jepitan lo yang ilang itu. Truz masalah Bobby, jangan terlalu lo pikirin, kalo dia bener-bener cinta sama lo, jepitan itu ga lebih berarti daripada diri lo”.


Mungkin kita sering menghadapi peristiwa seperti yang dialami Mita. Kadang-kadang kita menghabiskan energi kita untuk meratapi hal-hal yang telah pergi dan hilang. Kehilangan uang, barang, ataupun orang yang kita cintai. Kita hanya bisa meratap, menangis, dan kecewa. Padahal sebagai umat Buddha, kita tahu bahwa masih berputar-putar di alam samsara adalah dukkha. Selain itu, sabbe sankhara anicca, semua yang berkondisi tidak kekal. Jadi, untuk apa kita bersedih saat kehilangan segala yang kita cintai?



Karena pada dasarnya kita pun tahu bahwa keberadaan mereka tidak kekal, mereka akan pergi dan mereka tidak akan ada di sisi kita selama-lamanya. Mungkin saat pertama kali harus berpisah atau kehilangan, timbul keegoisan dan keserakahan dari diri kita. Mana “ milikku”? tapi, apakah semuanya itu benar-benar milik Anda??? Bila Anda berpikiran seperti itu, apa bedanya Anda dengan si dungu dalam syair Dhammapada di bawah ini : Anak-anak adalah milikku, kekayaan adalah milikku. Demikianlah si Dungu menjadi jengkel. Dirinya sendiri sesungguhnya bukan miliknya, bagaimana mungkin anak-anak dan kekayaan (menjadi miliknya)? Dhammapada 62 ( Bala Vagga 3) Mungkin permasalahan utamanya adalah bagaimana kita harus belajar melepas. Tidak ada konsep “milikku” mungkin lebih baik.



Dengan demikian, bila kita harus kehilangan, kita tidak akan menjadi sakit, tak ada sedih, kecewa maupun penderitaan. Bahkan tidak ada pula konsep “diriku”, Anatta. Semua konsep itu hanya hasil bentukan dari pikiran kita. Pernakah Anda menyadari, semakin banyak yang Anda miliki, maka semakin besar pula rasa ketakutan Anda akan kehilangan. Bagaimana Anda bisa berbahagia bila keadaannya seperti itu? Perasaan Anda tak pernah terbebas. Semuanya “milikku, milikku, milikku”, “ Aku takut kehilangan”. Mengapa Anda harus takut? Karena pada akhirnya Anda juga akan kehilangan diri Anda, kematian akan datang juga.



Thich Nhat Hanh pernah berkata, tiada kematian, tiada ketakutan. Pada saat kematian datang, itu adalah awal untuk kelahiran yang selanjutnya. Jadi, untuk apa ditakuti, selama masih berada di samsara, proses tersebut tidak akan pernah berakhir. Tidak ada awal dan akhir. Semuanya hanya konsep yang kita buat. Coba Anda bayangkan, ketika Anda melihat kuncup bunga hari ini, mungkin kuncup itu akan berubah menjadi bunga indah beberapa hari kemudian. Lalu timbul pertanyaan, kemana perginya kuncup bunga yang Anda lihat beberapa hari yang lalu? Kuncup itu tak lain adalah bunga indah yang sedang Anda pandangi pada hari ini. Dua benda itu tak sama, tapi tak berbeda juga. Konsep hilang dan muncul hanya ada di dalam pikiran Anda, padahal secara alami keduanya tidak ada.



Contoh lain adalah ketika Anda telah melihat matahari hari ini terbit dan tenggelam. Lalu, ketika besok matahari itu terbit lagi, Anda pasti akan bertanya, matahari yang sama kah seperti yang kemarin? Semunya hanya konsep dari pikiran Anda. Selama Anda belum bisa melepaskan konsep-konsep itu, maka Anda tidak bisa bahagia. Mungkin orang yang paling simple pikirannya adalah orang termiskin di dunia ini karena mereka tidak memiliki ketakutan akan kehilangan miliknya. Jadi mengapa kita tak mencoba membuang konsep “milikku”? Karena semakin kita merasa tak memiliki apa-apa, kita tak akan pernah memiliki rasa takut kehilangan. (KMBUI)

Atasilah Rasa Marah Anda


Kesadaran seseorang seharusnya diperkuat dengan berfikir, "Mereka yang tidak memiliki kesabaran akan menderita akibat ketidaksabarannya sendiri, dan melakukan sesuatu yang akan membawa penderitaaan pada kehidupan selanjutnya."


Ia seharusnya berpikir, "Sekalipun penderitaan ini timbul akibat perbuatan salah orang lain, tetapi tubuhku merupakan tempat berlangsungnya penderitaan ini, dan perbuatan yang menimbulkan penderitaan tersebut merupakan milikku (akibat dari kamma yang berbuah)."


Ia juga seharusnya berpikir, "Penderitaan yang aku terima akan membebaskanku dari hutang-hutang (buah) kamma burukku." "Bila tidak ada seorangpun yang berbuat kesalahan, bagaimana aku dapat melatih dan menyempurnakan kesabaranku?" "Sekalipun saat ini ia berbuat kesalahan, tetapi dahulu dia mungkin seorang yang murah hati terhadapku."


Selanjutnya ia juga seharusnya berpikir, "Semua mahluk bagaikan anak-anakku sendiri dan orang tua manakah yang menjadi marah dan dendam karena kesalahan yang dilakukan oleh anak-anaknya?" Akhirnya ia seharusnya berpikir, "Ia berbuat salah kepadaku (mungkin) karena kesalahan yang ada dalam diriku, aku harus berusaha untuk melenyapkan kesalahan itu (bukan sebaliknya berbuat kesalahan yang baru)". By : NN, KMBUI

Buddha, Agama yang sudah terbukti secara alamiah !


Buddha

Agama yang sudah terbukti secara alamiah

Mari kita simak berikut ini !!

Ajaran pokok Buddha Dhamma adalah Hukum Kamma, Tumimbal Lahir, Meditasi . Dalam beberapa hal pokok itu ternyata Sains atau ilmu pengetahuan mendukung Buddha Dhamma. Selain itu prinsip universal (kosmik) dan keterbukaan terhadap pembuktian (ehipassiko) memposisikan Buddha Dhamma (Suatu kesunyataan kosmik) identik dengan Sains atau kebenaran ilmiah.

Maka tidak heran jika ilmuwan yang paling disenangi dan dikenal oleh setiap insan, Albert Einstein sejak lama sudah menyatakan Buddhisme merupakan jawaban bagi religi masa depan, karena agama Buddha merupakan agama kosmik.

Secara lengkap kutipan dari Einstein :

“ The religion of the future will be cosmic religion.

It should transcend a personal god and avoid dogmas and theology.

Covering both natural and the spiritual, it should be based on a religious sense arising from the experience of all things, natural and spiritual, as a meaningful unity

Buddhism answers this description“

( Agama masa depan adalah agama kosmik. Ia harus melampaui Tuhan berpribadi, bebas dari dogma dan teologi. Ia harus mencakup aspek alami dan spiritual, berdasarkan rasa religi yang muncul dari pengalaman semua makhluk, yang alami maupun yang spiritual, sebagai suatu kesatuan utuh yang penuh makna. Buddhisme menjawab uraian di atas.)

(Albert Einstein)

Sekarang kita lihat hukum karma dan tumimbal lahir. Keduanya kini semakin diyakini oleh para ilmuwan, khususnya bagi yang melakukan terapi regresi masa silam (past life regression therapy ) terhadap pasiennya. Teknik terapi ini belakangan ini marak diberitakan karena dapat mengobati gangguan yang sulit diatasi terapi lainnya.

Khususnya tentang Hukum Kamma, prinsipnya identik dengan Hukum III Newton, yaitu tentang hubungan anatra aksi dan reaksi. Juga sesuai dengan prinsip energi. Hubungan sebab akibat memang merupakan salah satu hukum penting dalam ilmu pengetahuan.

Metode Meditasi juga demikian, manfaatnya sudah terbukti secara ilmiah. Untuk mengetahuinya, tinggal klik di internet, ribuan makalah ilmiah tentang manfaat meditasi. Maka tidak heran jika sudah cukup lama hingga kini banyak latihan meditasi diselenggarakan bukan hanya oleh umat Buddha tapi umat agama lain. Itulah ciri universal Buddha Dhamma, siapapun yang mempraktikkannya akan mendapat manfaat, tak perlu harus mengakui Buddha sebagai “ Juru selamatnya”.

Demikianlah beberapa masukan tentang keselarasan Buddha Dhamma dengan Sains. Dengan keselarasan unik itu, patut dipikirkan untuk merumuskan motto Buddha Dhamma sebagai “ agama yang ilmiah, agama yang sudah terbukti, bukan cuma janji atau testimoni, agama yang universal,dan non diskriminatif”

Jika teman-teman ada komentar terhadap artikel Dhamma, silahkan posting komentar anda. Terima kasih

Salam Metta,

Erwin

Biarlah Yang Miskin Berkata, “Aku Kaya!”

Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknnya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,“ Bagaimana perjalanan tadi?“
“Sungguh luar biasa, Pa.“
“Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin??“ tanya sang ayah .“Iya Pa.” jawabnya.
”Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” Tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab,” Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memilki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka. Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan mereka seluas horizon. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.”

Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan. “ Terima kasih, pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.” Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak dimiliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain. Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi kita semua bersyukur atas yang telah terjadi bagi kita daripada khawatir untuk meminta lebih lagi.
Sebagai manusia kita semua memiliki potensi untuk menjadi bahagia dan berbelas kasih, dan juga memiliki potensi untuk menjadi menderita dan kejam kepada sesama. Potensi-potensi tersebut ada di dalam kita semua.

Jika kita ingin bahagia, maka hal yang penting untuk dilakukan adalah mencoba untuk mengembangkan aspek-aspek yang positif dan berguna yang ada dalam diri kita masing-masing dan mencoba untuk mereduksi atau mengurangi aspek-aspek negatif.
(YM. Dalai Lama)

Feng shui dan Buddhisme


Feng shui merupakan unsur filsafat China tradisional yang dengan selaras menghubungkan seseorang dengan lingkungannya. Ahli filsafat China membagi potensi kehidupan seseorang dalam lima aspek yang mempengaruhi kemungkinan keberhasilan kehidupan seseorang yaitu : takdir, keberuntungan, feng shui, amal dan upaya. Bagaimana pandangan Buddhisme mengenai feng shui? Dalam pandangan agama Buddha, takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Di sinilah perbedaan pandangan agama Buddha dan ahli feng shui.


Ahli feng shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Tapi dalam pandangan agama Buddha jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta berikut : "...Setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, bersaudara dengan karmanya sendiri dan dilindungi oleh karmanya sendiri. Karma yang menentukan makhluk-makhluk, menjadikan mereka hina dan mulia."

Majjhima Nikaya

Jadi kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, hina atau mulianya tidak bisa ditentukan dengan mengatur feng shui. Seseorang akan menerima akibatnya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Perbaikan feng shui melalui ahlinya, hasilnya mungkin dapat dinikmati seketika, tapi tetap bersifat sementara dan tak lepas dari efek sampingnya. Perbaikan feng shui secara alami (dengan melakukan karma baik) memang lebih lambat, tapi hasilnya lebih mendasar dan tanpa efek samping.

oleh: Maitreyawira

Pentingya persahabatan


Teman itu penting. Sedikit sekali hal dalam kehidupan yang lebih penting daripada orang-orang yang kita sebut sebagai teman kita. Mereka adalah orang-orang yang membantu kita untuk maju dan harus kita bantu sebagai balasannya. Oleh karena persahabatan adalah pilihan yang kita tentukan sacara sadar, maka persahabatan lebih sulit diciptakan dari hubungan keluarga dan tidak jarang dapat lebih bernilai.


Confusius berkata :
Kalau kita hidup dengan orang baik, tak berapa lama kita akan menyadari bahwa dia telah mengubah kita menjadi lebih baik. Sama seperti kita masuk ke ruangan yang penuh anggrek, tak berapa lama kita akan menyadari keharumannya.


Kalau kita hidup dengan orang jahat, tak berapa lama kita akan menyadari bahwa dia telah mengubah kita menjadi lebih buruk. Sama seperti kita masuk ke pasar ikan, tak berapa lama kita akan menyadari betapa baunya pasar itu.


Ketika kita memiliki teman-teman baik, kita harus selalu mencoba untuk menghargai apa pun yang mereka lakukan untuk kita, dan jangan pernah melupakan apa yang sudah kita peroleh dari mereka. Pada saat yang sama, jangan bersikap bodoh dalam mencari teman. Dunia ini penuh dengan berbagai jenis manusia, dan banyak di antaranya yang tidak baik.
Jika ada teman yang mendorong kita melanggar sila, lebih baik mencari teman baru. Kita harus mengerahkan semua kemampuan kita untuk meonolong orang lain, tetapi jika kehadiran mereka menyebabkan akibat buruk bagi kita, kita harus sadar bahwa hubungan ini tidak sehat dan mungkin akan lebih jika kita berakhir atau paling tidak mengurangi intensitasnya. Teman sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kita, oleh sebab itu kita harus leatih kehati-hatian dalam memilih teman.

Nilai teman baik
Dalam Sutra Sigalovada dikatakan bahwa teman baik memiliki empat sifat dasar :
1.Jika mereka melihat kita berbuat salah , mereka akan mengingatkan kita
2.Mereka baik kepada kita
3.Mereka senang membantu orang lain
4.Mereka tidak meninggalkan kita ketika sedang dibutuhkan

Empat hal diatas cukup penting ; mereka mengungkapkan sifat paling mendasar yang penting bukan hanya untuk persahabatan, tetapi juga untuk kemajuan kita di dalam Dhamma.
Kapanpun kita menemukan teman yang sesuai dengan ciri-ciri di atas, kita harus menghargai mereka dan membalas kebaikannya dalam setiap kesempatan Teman seperti ini akan membawa banyak kebajikan bagi kita. Mereka akan membantu kita maju lebih cepat dibandngkan dengan hal apapun di dunia ini,

Tidak perlu dikatakan bahwa semua umat Buddha harus berusaha keras untuk menjadi teman seperti yang dijelaskan di atas bagi orang lain. Sutta Abhiniskramana menyebutkan, “ jika kita mencelupkan tangan kita di dalam kemenyan kayu garu, dalam sekejap tangan kita akan menjadi harum ; melewatkan waktu dengan orang baik adalah sama seperti itu.

Bahaya teman yang jahat
Sutra Sugalovada menyebutkan empat jenis dasar orang yag termasuk teman yang jahat :

1.Teman yang serakah atau menakuti-nakuti untuk menipu kita
2.Teman yang menggunakan sanjungan untuk mendapatkan apa yang mereka
3.Teman yang menggunakan samaran kehormatan untuk menyanjung kita
4.Teman yang tujuan persahabatan bagi dirinya hanya mencari kesenangan


Jika anda merasa sering berhubungan dengan orang semacam ini, Anda harus menjaga diri dengan menjaga jarak bila Anda merasa kecenderungannya makin menjadi-jadi. Pengaruh yang paling kuat di dalam kehidupan datang dari orang-orang yang sering berhubungan dengan kita. Pada saat yang bersamaan, kita harus memastikan bahwa kita melewatkan waktu bersama dengan orang yang membawa pengaruh baik. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan emosi rendah yang ditawarkan oleh dunia kepada kita.

Sifat kepiting




MUNGKIN banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil namum rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/ wadah, Tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar baskom, sekuat tenaga mereka dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri. Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat kepiting.

Bila ada seekor kepiting yang hamper meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar. Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka
semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini… tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malah mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang tidak benar. Yang mengandung unsur komperisi, sifat iri ,dengki, atau munafik akan semakin nyata dan jika tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh kita sendiri.

Kesuksesan akan dating jika kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.


Pertanda seseorang adalah “kepiting” :

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar(bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/ pedoman dalam bertindak
2. Banyak Mengkritik tapi tidak ada perubahan
3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri. Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yah.. dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya.

Coba renungkan berapa waktu yang anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang dalam kehidupan sosial, bisnis, kuliah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri menjadi pribadi yang sehat dan sukses.

Kehidupan Sang elang

Kehidupan Sang Elang



Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur terpanjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke-40. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya muali menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitan waktu terbang. Saat itu, elang hanya mempunyai 2 pilihan : Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan-proses transformasi yang panjang selama 150 hari.


Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama prosess transformasi berlangsung. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruhnya terepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunnggu tumbunya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh.


Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi ! Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan.


Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah Sang penguasa atas diri Anda. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita. Anda adalah elang-elang itu. Perubahan pasti terjadi. Maka itu, Kita harus berubah.

Asal Usul Hari Kathina


Asal Usul Hari Kathina
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammavicaro


Dalam menyambut masa Kathina yang berlangsung selama satu bulan --dari tanggal 27 Oktober s/d 25 November 2007--, ada baiknya kita mengingat dan menelusuri kembali sejarah Kathina. Bagi umat Buddha, masa Kathina erat kaitannya dengan berdana kepada Sangha. Masa Kathina selalu disambut umat Buddha dengan begitu meriah, ini dapat dilihat dari semangat umat Buddha memperingati Kathina dengna berbondong-bondong datang ke Vihara. Mereka dengan perasaan bahagia, dan penuh ketulusan hati melakukan persembahan kepada Sangha.

Peristiwa ini sudah berlangsung beribu-ribu tahun lamanya dan menarik sekali apabila kita telusuri bagaimana sesungguhnya Kathina sampai ditetapkan oleh Sang Buddha Gotama?

Sejarah mencatat bahwa setelah meraih Pencerahan Agung, Sang Buddha melakukan perjalanan ke Taman Rusa Isipatana, di dekat Benares. Beliau membabarkan Dhamma yang dikenal dengan Dhammacakkapavatana Sutta kepada lima orang pertapa yang pernah menjadi sahabatNya? Kondana, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji. Setelah menguraikan khotbah pertama, Sang Buddha tetap tinggal disana. Beliau bertemu dengan Yasa -- anak seorang pedagang kaya raya di Benares -- dan memberikan wejangan Dhamma kepadanya. Disamping itu, Sang Buddha juga membabarkan Dhamma kepada ayah Yasa dan empat sahabat Yasa. Mereka beserta para pengikutnya -- semuanya berjumlah lima puluh lima orang -- meninggalkan kehidupan berumah tangga, memasuki kehidupan tanpa rumah (menjadi Bhikkhu), dan mencapai tingkat kesucian Arahat.

Masa penyebaran Dhamma telah dimulai. Tetapi pada saat itu Sang Buddha belum menyatakan masa Vassa dan masa Kathina. Semangat untuk menyebarkan Dhamma dalam diri para Bhikkhu nampaknya sangat besar.

Hal ini bisa terlihat dari adanya sekelompok Bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin, musim panas, maupun musim hujan (Sebagaimana diketahui di India hanya dikenal tiga Musim).

Melihat hal ini masyarakat mengkritik dengan mengatakan, "Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan, serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? Tetapi pertapa-pertapa lain, yang walaupun kurang baik dalam melaksanakan peraturan (Vinaya), namun mereka menetap selama musim hujan".

Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang Bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda :

"Para Bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa".

Kemudian terpikir oleh para Bhikkhu,

"Kapan masa Vassa dimulai ?".

Mereka menyatakan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, "Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa selama musim hujan".

Kemudian terpikir lagi oleh para Bhikkhu,

"Berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa ?".

Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau berkata,

"O para Bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalhi (Kini dikenal dengan Hari Raya Asadha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalhi. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan". Sejauh ini belum ada ketetapan mengenai Kathina Upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Sang Buddha baru menetapkan masa Vassa dan sejak saat itu, para Bhikkhu melaksanakan masa Vassa. Pada masa Vassa para Bhikkhu menetap selama musim hujan dan melatih dirinya.

Kathina mempunyai kisah tersendiri, sebagai berikut, pada waktu itu Sang Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang di dirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Buddha.

Ketika masa Vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa Vassa di Saketa dengan berpikir,

"Sang Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sang Buddha".

Setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.

Sang Buddha berkata,

"O para Bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa Vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan".

Kemudian para Bhikkhu menjawab:

"Segala sesuatu berjalan dengan baik, Sang Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa Vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Sang Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Sang Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh".

Setelah memberikan wejangan Dhamma,Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu,

"O para Bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap........".

Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Sang Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.

Sampai sekarang Kathina tetap diperingati sebagai upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha. Hubungan harmonis antara Bhikkhu Sangha dan umat awam seperti yang tercermin dalam masa Kathina ini, sungguh merupakan suatu berkah dalam kehidupan ini. Kathina memang memberikan makna yang mendalam bagi umat Buddha.

Cermin Positif



Mengkritik itu mudah, karena melihat kesalahan orang lain itu gampang. Namun kritik yang didasari oleh mencari-cari kesalahan orang lain tak mungkin dapat mempermudah keadaan.Kita tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga kita untuk menilai apakah oranglain telah berbuat salah atau benar.Karena itu sangat mudah !

Yang sulit adalah melihat kesalahan diri kita sendiri. Waspadailah bila kita begitu pandai mengkritik. Jangan-jangan kita tak mampu lagi melihat kebenaran.Dan sebuta-butanya orang ialah mereka yang tak bisa menangkap cahaya kebenaran.

Sekali kita gembira bisa menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, kita tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil. Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar kita telah menciptakan gunung kesalahan orang.Orang tak pernah suka berkaca pada cermin yang memantulkan kekurangan wajahnya.

Maka dari itu janganlah kita menjadi bayangan atas kesalahan orang lain. Bantulah mereka menemukan sisi positif diri mereka. Di saat itu pula orang lain akan memantulkan sisi baik kita sendiri.

sumber dari http://indoforum.org/ by lauzart

Betapa Bahagianya Jadi Manusia

Terlahir sebagai manusia adalah berkah. Terlahir sebagai manusia membutuhkan sebab dan akibat yang sesuai. Ilmu pengetahuan modern juga menjelaskan betapa sulitnya terlahir sebagai manusia. Di dalam satu tetes sperma terdapat jutaan benih tetapi hanya ada satu benih yang bisa masuk ke dalam Ovum ( sel telur ) kemudian dibuahi lalu menjadi janin dan akhirnya lahir sebagai manusia. Dari contoh tersebut, kita dapat lihat betapa sulitnya terlahir sebagai manusia.


Kita telah terlahir di dalam berbagai macam tubuh sejak waktu yang tidak berawal di dunia ini, tapi kita tidak mendapatkan apa-apa. Tidak ada satupun bentuk penderitaan dan kebahagiaan yang tidak kita rasakan dan alami. Pada saat kita terlahir kembali sebagai manusia, kita harus berbuat sesuatu untuk merasakan makna dari kehidupan. Selama ini jika kita tidak berpikir kritis, kita tidak akan merasakan betapa berharganya kelahiran kita sebagai manusia dan kita juga tidak menyesal kalau kita menyia-nyiakannya.

Kita mungkin lebih menyesal jika kehilangan uang, tapi sebetulnya tubuh manusia ini lebih penting daripada permata yang bisa mengabulkan semua keinginan kita.Dengan tubuh manusia, kita mampu mencegah kita terlahir di alam yang lebih rendah. Melalui kelahiran yang sekarang ini, kita hanya perlu mengunakan kesempatan yang sudah ada. Oleh sebab-sebab ini, maka kelahiran sebagai manusia lebih berharga dibanding dengan jutaan permata.

Jika kita menyia-nyiakan kelahiran ini yaitu kelahiran yang sudah kita dapatkan dengan susah payah, maka itu lebih menyedihkan daripada kehilangan jutaan permata. Kita tidak dapat menggenggam masa lalu, ataupun memastikan yang akan datang. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus mendapatkan makna dari kehidupan kita. Berpaculah pada waktu, jangan biarkan ia melewatimu.